Bulan Mulia Dan Malam Seribu Bulan

 

Hari demi hari berlalu apakah kita telah benar-benar menyadari bahwa bersama bergantinya hari itu artinya Romadhon akan segera meninggalkan kita. Dan sudahkah kita menyadari selama ini apakah kebaikan kita meningkat di bulan mulia ini. Sudahkah kita benar-benar ingat dosa-dosa di masa lalu kemudian kita adukan dan mohon kepada Alloh pengampunan. Apa yang selama ini kita lakukan di bulan mulia ini. Seberapa besar nilai kemulyaan bulan Romadahon bagi hati kita. Seperti apakah keyakinan kita kepada kemurahan Alloh di bulan Romadhon.

Ada hamba yang keras hati di bulan Romadhon hingga tidak ada rindu kepada bulan mulia ini. Semua itu terbaca di dalam prilakunya, tutur katanya tetap seperti sebelum Romadhon dan tidak ada berubah menjdi lebih baik.Yang di lihat oleh matanya pun tetap tidak berubah. Kebiasaanya pun belum berganti menjadi lebih terpuji. Yang diuacap masih belum berganti dengan Al-Qur’an dan berdzikir atau mengajak kepada kebaikan dan menjauhkan kemungkaran. Tontonannya masih hal-hal yang membangkitkan sahwat atau membuai hati untuk terkagum dengan dunia dan mencintainya. Tempat nongkrong dan berhibur pun belum berubah menjadi I’tikaf di masjid atau bergabung dengan majlis ilmu yang membangun hati dan jiwanya. Romadhon tidak di jadikan momen berubah dan membuat peningkatan.

Adalagi hamba yang benar-benar Romadhon ada di hatinya. Ia memasuki Romadhon dengan penuh kerinduan, harapan dan semangat untuk meningkatkan segala kebaikan. Yang pernah ia lakukan sebelum Romadhon tiba ia tekuni dan selalu membuat peningkatan dan membuat kebaikan baru yang belum pernah dilakukan di bulan Romadhon. Sedekahnya bertambah, rasa takutnya kepada Alloh meningkat. Tidak berucap kecuali yang Alloh ridhohi,kalimat-kalimat yang ia ucapkan adalah dzikir dan al-Quran. Malam harinya dilalui dengan segala kemulyaan dan tidak tertinggal ada tetesan air mata penyesalan akan segala dosa di masa lalu. Bahkan kadang penyesalan bukan karena dosa akan tetapi penyesalan dari kekurangannya dalam berbuat kebaikan .

Yang menulis dan anda yang membaca. Mari kita segera berkaca melihat diri kita sendiri. Kita tergolang hamba yang mana? Jika kita tergolong hamba yang pertama ,mari kita segera berbenah diri di Romadhon ini bahkan disaat ini. Karena Romadhon akan segera berlalu. Tahun depan bahkan hari esokpun belum tentu bagian untuk kita.

Lailatul qodar atau malam seribu bulan akan datang dan tidak harus di cari. Sebab yang mencari lalailaul qodar tidak akan menemukanya karena ia di sembunyikan oleh Alloh. Akan tetapi yang harus kita ketahui bahwa ia pasti datang ia pasti tiba. Ia datang tidak untuk semua tapi ia datang untuk yang merindunya. Tanyakan ke hati kecil kita dengan penuh keinsyafan. Akankah lailatul qodar datang untuk kita?

Karena tibanya tidak ada yang tahu bukanlah cara yang benar menanti kedatangannya sehari dan esok hari kita lalai. Perindu sejati akan menanti setiap saat dan tidak ada baginya kecuali menanti. Itulah yang dilakukan manusia-manusia pilihan Alloh. Hidupnya adalah untuk ibadah dan ibadah untuk kebaikan dan kebaikan. Dan begitu dekatnya hati mereka dengan Romadhon dan Lailatul qodar maka ia akan selalu merasakan bahwa setiap saat adalah Romadhon dan setiap saat ia duga tibanya Lailatul qodar.

Tidak ada kata terlambat untuk beruntung dengan Romadhon dan lailatul qodar selagi nyawa masih di kandung badan dan selagi kita dipertemukan oleh Alloh dengan Romadhon. Berjuanglah saat ini juga untuk mendapatkan kemulyaan Romadhon dan lailatul qodar. Dan tidak ada perindu sejati yang menanti kedatangan yang di rindukannya dengan setengah hati. Dan tidak ada pecinta yang tulus enggan dengan kehadiran yang ia cintai.

Sebagai pungkasan mari cermati diri kita saat ini, bagaimana diri kita dengan Romadhon dan lailatul qodar. Pantaskah kita mengaku merindukan Romadhon dan lailatul qodar dengan kelalaian dan kemalasan kita. Wallahu a'lam bishshowab.
Share: Facebook Twitter Google+