Cara Mbah Zainal Mencari Tambahan Pahala



Mbah Zainal: "Ke Nggading berapa, Kang?" Mbah Zainal Abidin Munawwir, Krapyak, menanyakan ongkos naik becak.
Tukang Becak:"Monggo mawon. Terserah panjenengan, Mbah", tukang becak pasrah karena sudah kenal.
Mbah Zainal: "Nggak bisa begitu to Kang! Sampeyan harus kasih kepastian harganya!"
Tukang Becak: "Yah... seribu Mbah, seperti ongkos pada umumnya". Itu harga yang cukup lazim pada masa itu, walaupun sedikit agak mahal.
Mbah Zainal: "Lima ratus ya!"
Tukang Becak: "Masih kurang, Mbah..." "Enam ratus!" Tukang becak sambil nyengir.
Mbah Zainal: "Ya sudah... tujuh ratus ya!"
Tukang becak pun merasa sungkan untuk membantah lagi dan mempersilahkan Mbah Zainal naik.
Sesampainya di tempat tujuan, Mbah Zainal mengulurkan selembar uangribuan tapi menolak kembaliannya. Tukang becak pun bengong dibuatnya.
Mbah Zainal: "Kalau tadi kita sepakat seribu, aku cuma dapat pahala wajib", kata Mbah Zainal memberikan penjelasan, "kalau begini kan yang tiga ratus jadi shodaqohku."
Tukang becak pun akhirnya menjadi faham sekaligus mendapat ilmu dari Mbah Zainal.
Share: Facebook Twitter Google+