Syariat Qurban

Syariat Qurban

Assalamu'alaikum wr.wb
Sebagai bagian dari bentuk ibadah manusia kepada Allah, kurban telah disyariatkan sejak awal generasi manusia hidup di muka bumi. Sejak saat itu telah berlaku pula karakter ibadah sebagaimana ibadah lain yaitu ada kalanya diterima dan tidak diterima.

Hal ini telah jelas sebagaimana firman Allah SWT:
"Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putera Adam (Qabil dan Habil)menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang diantara mereka berdua (Habil yang berkurban kambing) dan yang tidak diterima dari yang lain (Qabil yang berkurban hasil pertanian)." (Q.S.Al-Maidah:27).
Allah juga memberikan contoh orang yang sukses besar dalam berkurban yaitu Ibrahim sebagai pengkurban dan Ismail sebagai orang yang sanggup menjadi kurban. Bila ternyata objek kurban bisa hasil tani, hewan dan manusia, lalu apa sebenarnya kurban itu? Siapa yang dikenai beban hukum kurban? Bagaimana caranya agar kurban dapat diterima? Apa hal-hal lain yang terkait agar mudah melaksanakan ibadah kurban agar semakin sempurna?

Berikut beberapa penjelasan mengenai hal itu:

Pengertian dan Objek kurban

Kurban berasal dari kata "Qurban" yang berarti pendekatan. Ulama memberi pengertian secara istilah bahwa kurban adalah segala hal yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah baik berupa sembelihan maupun lainnya. Oleh karena itu wajar jika istilah kurban mencakup berbagai macam objek sebagaimana di atas. Begitu pula termasuk di dalmnya adalah aqiqah dan hady (hewan yang disembelih sebagai konsekuensi dalam pelaksanaan ibadah haji). Hanya saja karena kata itu lebih sering digunakan untuk menunjuk pada salah satu macam diantaranya yaitu berkurban hewan, maka setiap kalidiungkapkan lafadz kurban langsung tertuju kepada kurban hewan pada hari raya Idul Adha dan hari tasyriq yang sebenarnya untuk itu ada istilah sendiri yaitu udhiyyah.

Keutamaan kurban
Rasulullah SAW menjelaskan: "Tiada amal anak Adam yang paling disukai Allah pada hari penyembelihan daripada mengalirkan darah qurban, sesungguhnya hewan yang diqurbankan itu akan datang (dengan kebaikan untuk yang melakukan kurban) dihari kiamat kelak dengan tanduk-tanduknya, bulu dan tulang-tulangnya, sesungguhnya (pahala) dari darah hewan kurban akan jatuh pada suatu tempat di sisi Allah sebelum jatuh ke bumi, maka lakukanlah ini sepenuh kerelaan hati." (H.R. Tirmudzi).
Hukum Berkurban

Ada beberapa pendapat mengenai hukum kurban bagi yang mampu, masing-masing mendasarkan pada dalil, namun ada satu dalil yang shahih dan definitif yang menjembatani berbagai perbedaan itu yaitu sabda Rasulullah SAW: 
"Aku diperintahkan untuk berkurban, sedangkan itu adalah sunnah bagi kalian." (H.R. Turmudzi).
Atas dasar hadits ini, maka semua dalil yang bernada mewajibkan atau ancaman bagi yang tidak melakukan kurban, semuanya dimaknai sebagai penguatan, penekanan dan dorongan untuk melakukan ibadah kurban tersebut.

Syarat Sah Kurban
  •  A. Terkait dengan hewan.
  1. Termasuk dari an'am (unta, sapi, dan kambing) baik jantan atau betina.
  2. Cukup umur.
  3. Bebas dari cacat yang jelas (buta sebelah, sakit, kurus kering, pincang, dan cacat yang setara atau lebih parah).
  4. Milik pengkurban.
  5. Tidak terikat dengan hak orang lain.
  • B. Terkait dengan pengkurban.
  1. Niat.
  2. Khusus untuk kurban bersama misalnya satu sapi atau unta untuk tujuh orang (patungan) harus satu niat untuk kurban. Tidak sah bila salah seorang di antaranya berniat untuk dapat daging semata. 
  • C. Terkait dengan waktu.
Penyembelihan dilakukan dalam rentang waktu antara setelah shalat Idul Adha sampai dengan maghrib tanggal 13 Dzulhijjah.

Sunnah Kurban
  • A. Sebelum menyembelih.
  1. Memilih hewan yang paling bagus.
  2. Pequrban tidak memotong rambut dan kuku mulai tanggal 1 Dzulhijjah sampai saat hewan disembelih.
  •  B. Saat menyembelih.  
  1. Pengkurban menyembelih sendiri bila mampu.
  2. Menghadapkan hewan kurban ke arah kiblat.
  3. Berdoa, baik ketika menyembelih sendiri maupun saat diwakilkan.
  4. Bersegera menyembelih di hari pertama.
  • C. Setelah disembelih.
  1. Menunggu sampai hewan benar-benar mati sebelum menguliti dan memotong-motong
  2. Pengkurban memakan sebagian daging kurbannya dan mensedekahkan selebihnya.
Larangan
  • Pengkurban menjual kulit atau bagian lain dari hewan kurbannya.
  • Mejadikan sebagian kurban sebagi upah panitia.
Distribusi Daging Kurban
  • Tidak ada kriteria khusus sebagai syarat sah atau berhak mendapat daging kurban, tetapi semakin membutuhkan tentu semakin bermanfaat.
  • Tidak ada batasan pasti mengenai kadar pemberian.
  • Tidak ada pula mengenai pemerataan dalam pembagian daging, tetapi menjaga kesalahpahaman dan perasaan penting diperhatikan.
  • Waktu pembagian tidak terbatas sebagaimana akhir masa penyembelihan.
  • Sebagian riwayat yang kami ketahui pada masa Nabi SAW, daging kurban dibagi dalam kondisi mentah, tetapi tidak terdapat larangan untuk dibagi dalam kondisi matang.
  • Tidak ada amil sebagaimana dalam zakat, untuk mengurus kurban, yang ada adalah panitia yang berposisi sebagai wakil pengkurban yang bisa menerima upah tetapi bukan dari bagian hewan kurban itu.
Wallahu A'lam Bish-Showab.
Share: Facebook Twitter Google+