Ibadah Bukan Sekedar Seremonial

Ibadah Bukan Sekedar Seremonial
Ibadah syariat itu merupakan simbol seremonial Islam dan akan benilai jika didasari dengan hakikat, dilandasi dengan nilai-nilai ‘ubudiyah.
Jika hanya formalitas dan simbol/jargon saja, contohnya masjid yang megah, jamaahnya banyak, tetapi Islamnya kosong dari hati setiap jamaah, maka itu percuma saja. Bukan berarti ini meremehkan yang ada.

Masjid xxx, misalnya, dibangun dengan biaya 54 miliar, apa artinya? Nilai apa yang didapat? Jamaah haji setiap tahun bertambah, jumlahnya mencapai dua ratus ribu orang, perubahan apa yang kita rasakan?
Apakah orang- orang semakin baik, semakin peduli kepada fakir miskin semakin jujur, korupsi semakin berkurang, dan pendidikan semakin maju? Artinya, apalah arti sebuah seremonial formal atau simbol, kalau tidak didasari dengan ibadah yang betul-betul ‘ubudiyah.

Menurut Imam Husain saat itu, yang memperjuangkan Islam sebenarnya adalah, bukan melakukan ibadah haji, tetapi menyuarakan kebenaran (shautul haq).

Ada empat macam keadaan umat Islam, secara formal dan kultural.
  • Pertama, orang yang namanya sangat Islami, pekerjaannya di lingkungan Islami, akhlaknya pun baik.
  • Kedua , orang yang namanya tidak Islami, pekerjaannya bukan di lingkungan Islami, tetapi akhlaknya baik.
  • Ketiga, orang yang namanya Islami, pekerjaannya di lingkungan Islami, tetapi akhlaknya buruk.
  • Keempat, orang yang namanya tidak seluruhnya Islami, pekerjaannya di lingkungan Islami dan juga di luar lingkungan Islami, akhlaknya pun ada yang baik dan ada yang buruk.

Itulah keadaan umat islam dari dulu sampai sekarang. Para ulama sufi menulis kitab-kitab, bagaimana mencari ibadah yang betul-betul ‘ubudiyah. Salah satunya Al Imam al-Ghazali, menulis kitab Minhajjul‘abidin, mengenai metode meningkatkan ibadah. Bukan menambah rakaat shalat, shalat tetap 17 rakaat, tapi berkualitas. Puasa Ramadhan tetap satu bulan, tapi berkualitas.

Jadi, ibadah yang bersifat seremonial itu kering, dangkal, dan tidak bernilai apa-apa terhadap kehidupan masyarakat.  Padahal, yang kita baca dalam shalat, masing-masing mempunyai arti tersendiri. Takbir, artinya mengakui bahwa yang mutlak hanya Allah, the absolute one existence.

Mengangkat kedua tangan, artinya mengucapkan selamat tinggal kepada dunia ghadhabiyah maupun syahwatiyah, kepada hawa nafsu. Sementara kita, mengangkat tangan tetapi hati kita memikirkan jabatan, kekayaan, wanita, dan lain-lain. Hamdalah , artinya kita harus positif dengan alam ini. Salam , artinya selesai shalat kita harus memperjuangkan perdamaian, bukannya malah berbuat kejahatan, seperti mencuri, korupsi, dan lain-lain.

Contohnya kotak infak Masjid Istiqlal, dulu setiap Jumat hanya terkumpul dana 5-6 juta, tetapi setelah pengurusnya diganti oleh Menteri Said Aqil al-Munawar, bisa mencapai 15 juta. Itulah pencuri yang berkedok malaikat.

Ada sebuah kisah mengenai seorang yang pulang dari menunaikan ibadah haji. Pada hari Jumat, ia memakai gamis putih dan bersorban. Di tengah jalan, gamisnya digigit oleh seekor anjing, dan ia memukulnya. Anjing itu kesakitan, lalu mengadu kepada Allah. “Ya Allah, saya kesakitan dipukul oleh Pak Haji!” Allah bertanya kepada orang itu, “Mengapa kau memukul anjing itu?” Ia menjawab, “Saya memukulnya karena ia menggigit gamis saya sehingga menjadi kotor!” Allah pun bertanya kepada anjing, “Mengapa kau menggigit gamisnya?” Anjing menjawab, “Saya pikir, orang yang berpakaian seperti itu, bersorban dan bergamis putih, tidak lagi memiliki rasa marah. Saya coba menggigitnya, ternyata marah juga.”

Jadi, tidak ada bedanya antara orang yang memakai kaos atau gamis. Agama itu bukan pakaiannya, bukan formalitas, bukan amal lahir saja. Orang-orang Saudi dan Kuwait pun, yang berpakaian gamis, banyak yang perilakunya tidak baik.

Ibadah seremonial yang formal tidak ada nilainya sama sekali jika tidak disertai esensi ‘ubudiyah.


-Kang Said-
Share: Facebook Twitter Google+