Revolusi Spiritual Lebih Tinggi Dari Revolusi Mental

Revolusi Spiritual Lebih Tinggi Dari Revolusi Mental
Ketua Umum PBNU pada Sabtu, 29 November 2014 akan dikukuhkan menjadi profesor bidang tasawuf di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Tema besar yang dikemukakannya adalah revolusi spiritual. Kiai Said yang menghabiskan 12 tahun di Arab Saudi untuk menempuh penddikan tinggi sampai lulus doktor ini memang mengambil spesialisasi tentang kajian tasawuf. Bagaimana pemikirannya tentang revolusi spiritual ini, berikut wawancara Mukafi Niam dari NU Online di gedung PBNU di tengah-tengah kesibukannya mempersiapkan pidato pengukuhan.

Apa yang dimaksud dengan revolusi spiritual?

Ini masih nyambung dengan pesantren, kalau mental kan akhlak, kalau spiritual lebih dari akhlak. Lebih tinggi. Ini sangat-sangat relevan dengan era globalisasi yang sangat mengkhawatirkan
. Liberalisasi budaya, agama, hubungan seks, semuanya memprihatikan sekali. Narkoba sudah masuk ke anak SD, ke orang miskin. Kalau dulu kan orang kaya saja karena mahal.

Gagasan nya adalah bagaimana spiritualitas menjadi spirit semangat kehidupan kebangsaan, bagaimana tasawuf membangun spiritualitas yang kita jadikan tujuan. Saya ini bukan orang yang sholeh, tapi ingin menjadi orang yang baik. Arahnya ke sana. Idolanya saya, harus mengidolakan seorang yang spiritualitasnya mulia, aulia, ulama, solihin, saya sendiri masih jauh.

Apa yang dilakukan dengan revolasi spiritual ini?

Mari kita dalam hidup ini, bukan hanya ketika di masjid, di pasar, di jalan, mari kita mengutamakan spritualitas. Kalau akhlak sekedar pribadi luar, hormat orang tua, tetangga, tamu, membantu orang miskin, Itu semuanya baik, tapi belum tentu spiritualitasnya baik. Akhlaknya baik. Kita membantu orang miskin yang didasarkan pada keikhlasan, ketulusan, tidak ingin pamer, tidk ingin balasan. Lha ini baru sufi. Nah, bagaimana spirit ini mewarnai spiritnya bangsa Indonesia, yang petani, buruh, pejabat dan lainnya menjalankan kewajibannya dengan didasari keikhlasan, apalagi kiainya, yang mengajar dan membimbing masyarakat.

Saya ini masih ngak karu-karuan, tapi idolanya saya ke sana, ke orang-orang yang sholeh. Berat, tapi bisa kalau ada niat. Apa sih bedanya kita dengan Imam Ghozali, sama-sama dilahirkan dengan kondisi seorang bayi yang bodoh, buta huruf, tapi beliau bisa menjadi sufi dan filosof besar. Apa sih bedanya kita dengan Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, waktu lahir juga ngak bisa apa-apa, menangis. Artinya kalau ada kemauan pasti bisa. Sama dengan membangun karir, membangun kebesaran kemuliaan spiritual. Kita bisa jadi wali kalau kita mau.

Ini soal penanaman nilai, kalau rajin ibadah belum tentu memiliki nilai spiritualitas?

Bukan berarti saya meremehkan ibadah, tapi belum tentu orang yang rajin ibadah itu sufi. Akhlakul karimah penting, tapi belum tentu orang yang sudah melakukan itu menjadi sufi. Bisa menjadi sufi kalau yang dilaukan tadi berdasarkan hati yang ikhlas.

Pencapaian nilai itu harus melalui pesantren atau ngaji atau apa?

Normatifnya ya pesantren atau mengikuti tarekat, tapi banyak orang jadi penjahat kemudian tobat langsung jadi wali seperti Ibrahim bin Adham, Sayyidah Rabiah Adawyah, penyanyi klub yang kemudian langsung menjadi wali. Ibrahim bin Adham, seorang anak raja yang melepaskan kebesaran kemewahannya langsung menjadi sufi, tetapi secara normal ya ada proses untuk mencapai spiritualitas yang tinggi. Ada juga para auia mencapai makom tinggi tanpa proses.

Apa mengikuti tarekat langsung jadi sufi atau wali?

Nggak, katakanlah anggotanya 10 ribu, kalau ada walinya 10 sudah bagus. Sama juga pesantren, seperti Lirboyo, dari 10 ribu santri, 100 yang sangat alim dan berakhlak saja itu sudah sangat bagus. Tarekat adalah lembaga pendidikan.
Share: Facebook Twitter Google+