Gus Dur Sang Penakluk

Gus Dur Sang Penakluk

Sikap lembut dan pemaaf, adalah "strategi yang sangat jitu" untuk "menaklukan" dengan cara merangkul dan meluluhkan hati. Toyotomi Hideyoshi menggunakan strategi "lemah lembut" tatkala mempersatuhkan jepang. Nelson Mandela berhasil merobohkan tembok Apartheid dengan cara "merangkul" warga kulit putih yang dulu menindasnya. Mahatma Gandhi memilih "protes diam" di tengah kekejaman inggris atas rakyat India. Prinsip inilah yang melahirkan doktrin Sun Tzu : "Jika Kamu Belum Sanggup Mengalahkan Lawanmu, Maka Bersahabatlah Dengannya."

Gus Dur Allahu yarham, yang semasa hidupnya selalu memaafkan orang-orang yang mencelanya. Gus Dur juga sering "bermesraan" dengan penganut agama atau aliran lain yang dinaggap sesat ( Ahmadiyyah, Syiah, Tionghoa, kejawen, eks-PKI, hingga Israel). Dengan bersahabat, kita akan mengetahui jaringan, kekuatan, dan kelemahan "musuh". Bahkan bisa jadi "musuh" akan bersimpati dan mengikuti jejak kita.

Ketika jalur gaza di gempur oleh Israel ditahun 2008-2009, Gus dur Allahu Yarham melakukan "diplomasi diam-diam" melalui rekan-rekanya di shimon perez institute dan knesset. Hasilnya, beberapa minggu kemudian Israel menghentikan gempuranya ke Gaza. Tentu saja Gus Dur bukan satu-satunya pihak yang berhasil meluluhkan hati Israel untuk menarik pasukanya dari Gaza, akan tetapi hal itu menunjukan bahwa persahabtan akan membuka akses "ke dalam" sehingga mampu mempengaruhi lawan.

Begitu pula saat Gus Dur membantu warga Muslim Moro di Mindanao, Filiphina, dengan mengirimkan berton-ton beras yang diperoleh melalui jaringan yang beliau miliki. Juga diplomasi diam-diam kepada sahabat kuliahnya di Universitas Baghdad, saat wartawan media elektronik Meuthia Hafidz disekap oleh gerilayawan Irak dan diplomasi diplomasi pemerintah RI macet. Lobi diam-diam itu berhasil membantu membebaskan Meutia Hafidz. Prinsipnya, "Kemungkaran Tidak Boleh Dibalas Dengan Kemungkaran. Api Yang Berkobar Akan Padam Oleh Air Yang Melimpah, Bukan Oleh Kobaran Api Yang Lebih Besar."

Allah yarham Gus Dur, semoga Allah menempatkan beliau di tempat yang sebaik-baiknya, Aamiiin al fatihah.

Maka kewajiban memerintah dalam kebaikan dan mencegah kemunkaran itu tergantung bila tidak akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar dibanding dengan kemunkaran yang telah terjadi. Selain itu juga haram ketika terjadi pada dirinya, badanya, harta dan kehormatanya. (Ziyadah al Ta'liqat)
Share: Facebook Twitter Google+