Kisah Seorang Wali Mastur

Kisah Seorang Wali Mastur
K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul)
Ada Seorang Sayyid yang setiap hari duduk-duduk di tempat Perjudian. Sampai suatu Saat ajal datang menjemputnya, orang-orang kampung tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya.Di saat wafatnya, hanya Istri dan anaknya yang menghadapi jenazahnya, tidak ada satu tetangga pun datang. Tidak ada satu pun tetangga yang mau memandikan, mengkafani, mensholatkan jenazahnya.

Sang Istri menangis melihat keadaan suaminya, dia-pun berdo'a
"Yaa Allah.. Bagaimana Dengan Jenazah Suamiku, Apakah Aku Buang Ke sungai Mahakam ini atau Aku Biarkan Sampai Membusuk.. Engkau Yang Maha Luas Rahmat-Mu, Berilah Petunjuk..."

Tiba-tiba Masuk Seorang Tampan Tinggi Rupawan mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum Yaa Syarifah..."
Tampak Puluhan Orang Berjubah Dan Bersorban Mengiringi Dibelakangnya.

"Wa'alaikum salam Warohmatullah.."
Saat Melihat Sang Guru, Si Syarifah Tersentak Kaget Bukan Main, Yang Datang Adalah Al Imam Al Quthubul Akwan As-Syeikh Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani Sekumpul.

Syarifah Bertanya, "Kapan Pian Kesini Guru.. Kal-Tim dan Kal-Sel sangatlah jauh, apalagi kami di daerah Hulu Mahakam Kembang Janggut ini."

Jawab Guru Sekumpul
"Allah Yang Memudahkan..."
Tiba-tiba dari luar banyak orang kampung datang, dan terperanjat seketika tahu yang datang Guru Sekumpul, maka mereka keheranan dan salah-satu dari mereka berkata, "Wahai Guru,ini adalah orang yang senang berjudi, tiap hari duduk-duduk di tempat perjudian..."

Guru Sekumpul tersenyum dan berkata, "Apakah kamu melihat beliau sendiri main judi, atau beliau cuma duduk-duduk saja disitu tanpa main judi?"
Sang penduduk terdiam, kata Abah Guru Sekumpul kemudian "Beliau ini yang tiap hari kalian lihat di tempat perjudian adalah seorang Dzuriat Rasulullah SAW, beliau ini yang jadi Penyandang Bala di kampung sini, beliau ini yang setiap malam pada saat kalian tidur beliau bangun dan sholat tahajud mendo'a kan kalian, beliau juga yang rela setiap hari duduk di tempat perjudian berdzikir dan memohon ampun untuk para penjudi agar mereka sadar.., tapi kalian tidak tahu kalian cuma melihat dengan pandangan dzohir saja, beliau tidak terkenal dalam pandangan masyarakat bumi tapi sangat terkenal di langit"

Maka Para pendudukmenjerit dan menangis, yang biasa berjudi langsung Sujud dan memohon ampun kepada Allah. Lalu Jenazah beliau dimandikan dikafani dan disholatkan lalu diantar ke pemakaman. Hujan pun turun dengan derasnya usai pemakaman .

"Jangan lagi kalian berkelakuan seperti itu, biar bagaimanapun zhohirnya kalau sudah wafat sama. Sangka baik dengan makhluqnya Allah SWT, dan hati-hati kata beliau. Kalau itu dzurriyah Sayyidil Wujud SAW, kalau tadi tetap dibiarkan seperti itu, sampai syarifah itu sakit hati, tenggelam nanti desa kalian ini, murka Rasulullah SAW, murka juga Allah SWT" kata Abah Guru Sekumpul.

Setelah itu Abah Guru Sekumpul beserta rombongan pamit pulang naik kapal, tapi ada yang aneh, kapal yang ditumpangi Abah guru Sekumpul beserta rombongan itu tidak ada di Kaltim, sepertinya itu kapal Alam Jabbarut kata Habib Husein Alaydrus Singa Mahakam.
Share: Facebook Twitter Google+