Petani Dan Pedagang Yang Jujur Itu Pekerjaan Yang Mulia

Petani Dan Pedagang Yang Jujur Itu Pekerjaan Yang Mulia

Imam Al-Mawardi ('Ulama’ Syafi’iyyah) berkata: Pokok mata pencaharian adalah, bertani, berdagang, dan pengrajin. Manakah yang paling baik? Terdapat tiga madzhab yang berpendapat. Yang paling benar adalah pendapat madzhab Syafi’i, yaitu perdaganganlah yang terbaik. Sedangkan menurut pendapatku, yang terbaik adalah bertani. Karena lebih dekat pada sifat tawakkal (bergantung pada Allah). AsySyasiy juga berpendapat seperti Al-Mawardi, begitu juga Imam Al-Imroni, penulis kitab Al-Bayan, dan yang lainnya.

Al-Imam An-Nawawi berkata: Dalam kitab Shohih Bukhori, dari Al-Miqdam bin Ma’diy Karib ra dan dari Nabi Muhammad SAW yang bersabda : Tidak ada seorangpun yang lebih baik dalam menyantap makanan daripada menyantapnya dari pekerjaan tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Dawud AS makan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri. Yang benar adalah yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, yaitu pekerjaan tangan. Jika bertani adalah mata pencaharian yang paling baik dan utama, hal itu karena dihasilkan dari pekerjaan tangan dan di dalamnya terdapat sifat tawakkal seperti yang disebutkan oleh Imam Al-Mawardi di atas. Selain itu dalam bertani terdapat manfaat secara umum untuk orang-orang Islam dan binatang ternak, serta biasanya memakannya tanpa perlu jual beli, maka dia akan mendapat pahala. Jika tidak mengerjakannya dengan tangannya sendiri, tetapi dengan tangan pembantu dan orang-orang yang diberi upah olehnya, maka mata pencahariannya dari bertani lebih utama, seperti yang kami sebutkan.

Imam Jabir ra mengatakan bahwa Rasulullah SAW. bersabda: Tidaklah seorang muslim menanam melainkan setiap yang dimakan dari tanaman itu adalah dinilai sedekah baginya, setiap yang dicuri dari tanaman itu juga dinilai sedekah baginya dan tidak seorangpun mencelanya kecuali dinilai sedekah baginya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shohihnya. Di dalam riwayat Imam Muslim juga disebutkan : Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, lalu dimakan oleh manusia, binatang ternak, dan burung, kecuali hal itu menjadi pahala sedekah baginya hingga hari Qiamat. Di dalam riwayat : Tidaklah seorang muslim menanam tanaman dan membajak sawah, lalu dimakan oleh manusia, binatang ternak, dan segala sesuatu, kecuali menjadi pahala sedekah baginya. (Hadits riwayat Imam Bukhori-Muslim, disampaikan oleh Imam Anas Dikutip dari kitab Syarah Al-Muhadzab karya Imam An-Nawawi Ra)

Al-Imam An-Nawawi berkata: Jika wafat seorang penanam, maka baginya pahala yang berkelanjutan, dimulai dari saat ditanamnya tanaman itu hingga mati. Bagi ahli warisnya juga pahala dari setiap buah yang dimakan tanpa ganti rugi semasa pohon itu menjadi haknya.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitamy dalam kitabnya Fatawa Al-Haditsiyyah beliau mengunggulkan pendapat yang mengatakan bahwa berdagang lebih utama daripada bertani. Setelah menyebutkan hadits-hadits yang menunjukkan keutamaan berdagang, beliau berkata: Hadits-hadits ini mengarah kepada pendapat ulama’ Syafi’iyyah, yaitu sesungguhnya berdagang lebih utama daripada bertani dan menjadi pengrajin. Begitu juga yang disebutkan bahwa beliau Rasulullah SAW berdagang berkali-kali dan tidak pernah disebutkan bahwa beliau bercocok tanam atau sebagai pengrajin. Allah SWT tidak memilihkan bagi Nabi Nya SAW kecuali yang paling utama. Sedangkan diantara pokok mata pencaharian yaitu, berdagang, petani, dan sebagai pengrajin, Dia (Allah) memilih untuk Nabi Nya berdagang, bukan bertani atau sebagai pengrajin. Hal ini menunjukkan keutamaan berdagang.

Saya (Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith) berkata: bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa hasil usaha yang paling utama adalah harta rampasan yang diambil dari orang-orang kafir dengan jihad (perang). Dan itu adalah harta yang didapat Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Disebutkan di dalam sebuah hadits : Sesungguhnya Allah SWT menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.

Di tengah-tengah tulisannya junjungan kami Al-Quthbul Irsyad Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad ra, berkata: Dan sebab mencari nafkah bisa dari pertanian dan bercocok tanam, serta perdagangan. Dan dalam perdagangan terdapat sesuatu yang membahayakan, lebih-lebih di zaman ini. Sedangkan pertanian dan bercocok tanam lebih kecil bahayanya dan lebih banyak manfaatnya bagi pelakunya dan bagi orang lain. Di dalamnya juga terdapat riwayat dan kabar yang menunjukkan keberkahan dan pahala yang berkesinambungan. Maka carilah nafkah melalui jalan ini dengan semampunya, karena kesibukan di dalamnya juga sedikit sehingga tidak memecahkan tujuan hati kepada Allah dan tidak banyak menyibukkan perkara duniawi.

Imam Haddad juga berkata: Pertanian menandingi perdagangan dalam keberkahannya, dan lebih dekat pada kehalalan. Disebutkan dalam firman Allah SWT, yang artinya kurang lebih: Nafkahkanlah di jalan Allah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik. Ini adalah perdagangan. Dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Ini adalah pertanian. (Qs Al-Baqoroh: 267)

Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththos ra, berkata: Perdagangan membutuhkan tiga sifat, yakni semangat, niat, dan tawakkal kepada Allah SWT. (Kitab Manhajus Sawi, karya Imam Syafi’i Shoghir, Mufti Haromain, Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith ra)
Share: Facebook Twitter Google+