Hukum Anak Kecil Yang Memegang Al-Qur'an



Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin bin Ali bin Ahmad al Malibary di dalam kitabnya (Fathu al Mu’in) menyatakan bahwa tidak dilarang anak kecil yang telah tamyiz yang berhadats bahkan junub membawa dan menyentuh semisal mushaf untuk belajar dan membacanya serta yang menjadi perantaranya, seperti membawa ke Sekolah dan membawa kepada pengajar agar mengajarinya. Dan haram memberikan peluang terhadap anak yang belum tamiz dari semisal mushaf walaupun hanya setengah ayat.

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (al Tibyan) juga menyatakan bahwa orang gila dan anak kecil yang belum tamyiz dilarang menyentuh mushaf, karena dikhawatirkan menciderai kemuliaannya. Pelarangan dan pencegahan ini wajib bagi wali dan orang-orang yang melihatnya.

Di dalam sebuah literatur Fiqh Kontemporer (al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah) juga dijelaskan bahwa ilmuan dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan bahwa anak kecil yang telah tamyiz tidak dilarang menyentuh dan membawa mushaf atau papan yang dipergunakan untuk belajar karena adanya kebutuhan mempelajarinya serta sulit untuk melangsungkan kesuciannya. Imam al Nawawi berkata “Saya memperbolehkan anak kecil untuk membawa papan-papan dalam kondisi darurat dan adanya kebutuhan serta adanya kesulitan bagi mereka untuk melaksanakan wudlu’”.

Dari uraian tersebut di atas, secara eksplisit dan implisit dapat diketahui bahwa hukum anak kecil yang belum baligh memegang al Qur’an adalah diperinci sebagai berikut:

• Jika anak kecil tersebut belum tamyiz, maka dilarang menyentuh, memegang dan membawa al Qur’an. Wali dan siapapun yang melihat wajib untuk melarang.
• Jika anak kecil tersebut telah tamyiz, maka diperbolehkan untuk kebutuhan belajar atau dalam kondisi darurat.

Catatan:
Di dalam sebuah literatur Fiqh (al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kubra) dijelaskan bahwa “Tamyiz” secara etimologi tercetak dari kata “Miztuhu maizan” yang berarti berpisahnya sesuatu dari yang lain yakni dari hal-hal yang serupa dan bercampur. Dari itu pula, para pakar Fiqh menyatakan bahwa “Tamyiz” adalah usia yang mana jika anak kecil telah sampai pada usia tersebut, maka ia mulai mengetahui dan mengerti tentang sesuatu yang bermanfa’at dan membahayakan bagi dirinya.

Sebagian Ulama’ menyatakan bahwa “Tamyiz” adalah kemampuan di dalam otak untuk menganalisis arti suatu hal. Anak yang telah sampai pada usia 7 tahun, maka ia telah sampai pada usia “Tamyiz” hingga baligh, maka meliputi anak yang hampir baligh (murahik), sebagaimana yang telah ditetapkan oleh mayoritas pakar Fiqh. Dengan demikian, “Ta,myiz” adalah anak yang telah mampu membedakan antara baik dan buruk, antara yang bermanfa’at dan membahayakan dan dimulai dengan usia 7 tahun hingga baligh. Wallahu a'alm bis shawab
Share: Facebook Twitter Google+