Jangan Mengkafirkan Orang Kafir, Apalagi Yang Tidak Kafir


Sejak sekolah Ibtidaiyah bahwa orang yang tidak beriman dengan Nabi Muhammad atau al Qur'an adalah kafir. Mengapa setelah sekolah semakin tinggi menjadi ragu bahkan membenarkan semua agama? ada apa?

Pemahaman seperti ini bukan untuk: meng-kafirkan (takfir) pada orang lain. Apalagi pada yang tidak kafir. Pada yang jelas kafir-pun tidak perlu mengkafir-kafirkan. Orang kafir tanpa dikafirkan-pun sudah kafir. Pemahaman seperti ini sebagai akidah dan keyakinan yang tertanam dalam hati kita.

Tidak mengkafir-kan dimaksud, bukan berarti "membenarkan atau tidak menganggap kafir pada semua agama. Bagaimana orang lain akan mantap pada agama kita kalau kita sendiri (na'udzubillah) meragukan bahwa agamanya adalah satu2nya agama yang benar.

Non Muslim meyakini atas kebenaran agama-nya sendiri dipersilahkan. Tapi kita umat Islam tidak ikut membenarkan agama mereka. Sebagaimana mereka tidak meyakini kebenaran agama Islam. Karena membenarkan itu secara tidak langsung mendukung dan memantapkan kekafiran-nya.

Kita tidak perlu menghujat siapapun apalagi sesama muslim-nya. Pada non Muslim pun tidak perlu menghujat. Yang sangat ironis mengkampanyekan arti kebencian, untuk tidak benci orang kafir, sementara menebar kebencian dan menghujat sesama muslim.
Wakhiron, Tidak ada manusia yang sempurna lepas dari kesalahan, tapi harus tetap berusaha dan berdoa semoga Allah memberikan hidayah pada kita semua, sebagaimana kita baca setiap sholat:

اهدنا الطراط المستقيم * صراط الذين انعمت عليم غير المغضوب عليهم ولا الضالين. آمين
Share: Facebook Twitter Google+