Maulana Habib Luthfi bin Yahya: Keimanan Kedua Orang Tua Rasulullah



Ayah dan Ibu Nabi Muhammad SAW wafat sebelum Baginda Nabi diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Ini bukan untuk merendahkan Nabi. Terbukti dengan status yatim pada beliau, merupakan penghargaan Allah SWT kepada kedua orang tua beliau. Karena putra mereka langsung berada dalam didikan Allah SWT.

Selain itu, jika orang tua Baginda Nabi SAW masih hidup, niscaya mereka akan dan beriman kepada Nabi SAW. Secara keimanan, sah-sah saja Nabi memerintah orang tuanya atas nama utusan Allah SWT. Namun secara tidak langsung, Baginda Nabi yang berstatus anak memerintah ayah dan ibundanya.

Tertera dalam sebuah hadits: "Baginda Nabi SAW dilarang memintakan ampunan untuk kedua orang tua beliau". Keterangan ini sanadnya dhaif (lemah). Demikian juga keterangan yang menegaskan bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW pernah berziarah ke makam Ibunda Aminah, beliau bersabda: "Aku memohon izin kepada Allah SWT untuk berziarah ke makam ibuku, aku diberi izin. Aku juga memohon izin untuk memanjatkan doa ampunan untuk ibundaku, akan tetapi aku tidak diberi izin". Dalam riwayat ini, dikatakan juga bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW menangis, para sahabat pun juga menangis. Riwayat ini juga dhaif!

Jika hadits ini memang sanadnya shahih, maka perlu dicermati lagi. Karena keterangan itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa Ibunda Aminah belum beriman. Namun hadits di atas hanya melarang beliau untuk memanjatkan doa ampunan untuk Ibunda Aminah. Padahal larangan memohonkan ampunan kepada seseorang tidak mesti karena kekufurannya. Fakta telah berbicara bahwa di awal perjalanan Islam, Baginda Nabi SAW dilarang menyalati jenazah, karena jenazah ini punya hak adami yang belum dibayar. Singkatnya, setelah ada salah satu sahabat yang bersedia untuk menanggung hutang tersebut, Baginda Nabi SAW bersedia menshalatinya. Sudah maklum bahwa inti dalam shalat jenazah adalah memohonkan ampunan untuk jenazah. Akan tetapi secara tegas sikap beliau menunjukkan bahwa jenazah tersebut tidak dishalati hanya karena punya hak adami yang belum terselesaikan. Bukan karena kafir. Sehingga tangisan Baginda Nabi SAW di makam Ibunda Aminah mungkin karena kesedihan beliau kepada ibunya. Bukan karena Ibunda Aminah ada di neraka.

Dalam Al-Quran Surat Al-Isra ayat 24 dijelaskan: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka berdua (orang tuaku), sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil."

Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap orang mukallaf diperintah oleh Allah untuk memohonkan rahmat kepada orang tua, sebagaimana mereka berdua telah memelihara dan mendidik anak sewaktu kecil. Sehingga menjadi sebuah keharusan bagi anak untuk memohonkan ampunan untuk bapak ibunya, walaupun hanya satu kali saja. Rahmat di atas berarti rahmat Allah yang abadi, yakni rahmat di akhirat nanti. Bukan rahmat di dunia saja. Dari ketegasan ayat ini, apakah Baginda Nabi SAW dilarang memohonkan ampunan untuk kedua orang tuanya? Tentu akan sangat ganjil jika dijawab "Ya". Karena beliau memerintahkan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh beliau. Padahal Baginda Nabi SAW adalah suritauladan bagi umatnya. Dan apakah beliau dilarang berdoa dengan doa yang ada di dalam al-Quran?

Status kafir atau tidak, hanya bisa disandangkan kepada seseorang yang hidup pada zaman Nabi SAW setelah bi'tsah (diangkat jadi Rasul) dan setelah sampai da'wah Nabi kepadanya. Setelah Nabi diangkat menjadi Nabi dan Rasul, mereka yang menerima dakwah Nabi dan membenarkan, maka mereka termasuk orang yang beriman. Sebaliknya, mereka yang tidak beriman, maka mereka lah orang-orang yang ingkar, yang dalam istilahnya dikenal dengan orang kafir.

Dari uraian ini sangat jelas, bahwa kedua orang tua Baginda Nabi Muhammad SAW bukan lah kafir, sebab mereka berdua wafat sewaktu Nabi masih kecil. Orang tua Nabi masih hidup dalam masa fatrah, yakni masa kekosongan dari seorang Rasul. Sementara orang-orang yang mati dalam masa fatrah ini tidak disiksa oleh Allah.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 85: "Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum kami mengutus seorang Rasul." Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT tidak akan menyiksa seseorang sampai mengutus seorang utusan. Sehingga mustahil Allah SWT menyiksa orang-orang yang mati sebelum masa kenabian.

Salah satu permasalahan yang bisa memperkuat argumen di atas adalah anak kecil dari orang kafir tidak disiksa. Lalu apakah mereka yang tidak menjumpai kerasulan Baginda Nabi Muhammad SAW akan disiksa? Jawabnya tentu tidak!

Ibunda Aminah berkata: "Jika apa yang aku lihat dalam tidurku adalah kebenaran, niscaya engkau kelak akan menjadi utusan Allah, Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Agung. Engkau akan diutus di daerah halal dan di daerah haram." Kalau kita telaah wasiat Ibunda Aminah tersebut, sangat lah jelas bahwa kata-kata itu tidak akan pernah keluar kecuali dari seseorang yang beriman.

Dari pemaparan bukti-bukti di atas, sangat jelas bahwa orang tua Baginda Nabi SAW termasuk orang-orang yang selamat. Kalaupun ternyata pertimbangan di atas masih kurang kuat, semua orang Islam tidak diperkenankan membicarakan masalah status orang tua Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebab pembahasan ini tentu akan menyakiti hati Nabi Muhammad SAW. Sementara siapa saja yang menyakiti Nabi Muhammad SAW, maka ia bisa jatuh dalam kekufuran. Wallahu a'lamu.
Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad, wa 'ala aali Sayyidina Muhammad...
Share: Facebook Twitter Google+