NU Untuk Indonesia, NKRI Harga Mati


Sejarah NU sudah dimulai sejak NKRI belum ada. NU adalah jawaban atas kebutuhan mendasar dari Umat Islam setelah Kerajaan Turki Utsmani dihapuskan. Dunia Islam digemparkan dengan direbutnya Hijaz oleh Wahaby dalam kudeta berdarah. Situs-situs Islam dihancurratakan. Ulama Nusantaralah yang bereaksi. Membentuk Komite Hijaz untuk menuntut Raja Saud sehingga berhasil memaksa Raja tersebut untuk: Membatalkan rencana penghancuran atas makam Nabi Muhammad SAW, memperbolehkan orang Islam naik haji ke Makkah-Madinah, dan memberi kebebasan bermadzhab bagi penganut non-Wahaby.

Komite Hijaz dibubarkan, dan berganti nama dengan Nahdlatul ‘Ulama pada tahun 1926. Dalam kepemimpinan KH Hasyim Asy’arie, NU mampu melakukan banyak hal yang luar biasa, namun tidak tercatat dalam sejarah. Diantaranya: berhasil meminta kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk memasukkan hukum nikah menurut syariat Islam yang disesuaikan dengan hukum masa itu. Jadi, bukan semata-mata adopsi dari hukum Belanda saja. Tercatat juga, berhasil memberi masukan untuk masalah hukum waris yang disesuaikan dengan syariat Islam. Tak ketinggalan juga memberi masukan yang bagus sekali mengenai pajak Rodi, yakni pajak bagi orang Hindia Belanda yang ada di luar negeri.

Saat bangsa Indonesia menyongsong kemerdekaannya tak ketinggalan NU memiliki peran yang luar biasa besarnya, antara lain: menggerakkan secara massif berdirinya sekolah-sekolah formal non pesantren, baik sekolah umum maupun kejuruan. Kemudian untuk mempersatukan umat Islam, maka NU menggandeng organisasi Islam di Indonesia untuk membentuk Majlis al Islamy al A’la Indonesia (MIAI) pada tahun 1937, memperkokoh ukhuwah Islamiyah untuk merespons tekanan-tekanan Pemerintah Belanda atas umat Islam.

Saat Jepang menguasai Hindia Belanda, maka MIAI tetap menjalankan tugas. Sayangnya berusaha mengkampanyekan kehebatan Dai Nippon. Terutama dengan memperalat ulama terkenal untuk melegitimasi penjajahan yang mereka lakukan. Kembali NU bangkit, mempelopori pembubaran MIAI dan dengan lihainya membentuk Masyumi yang berusaha menjawab persoalan masyarakat luas pada saat itu dengan menekankan nilai-nilai nasionalisme menuju Indonesia merdeka.

Bahkan para ulama memobilisasi para santri dan pemuda Islam untuk melakukan latihan militer. Tujuannya hanya satu: menuju Indonesia merdeka. Yang penting bisa menguasai persenjataan modern. Di kemudian hari lahir banyak sekali kesatuan bersenjata dari pemuda Islam dan santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

NU melalui Masyumi aktif dalam berbagai forum untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, membuat Dasar Negara dan Undang-Undang Dasar 1945. NU-lah yang berhasil menjadi jalan tengah, win-win solution bagi kelompok Islam dan Nasional sekuler. Maka berhasillah NKRI terwujud.

Melihat Indonesia merdeka, Belanda tidak rela. NU melalui resolusi jihad menyerukan jihad semesta melawan Sekutu. Penjajah berhasil dipukul mundur dan Indonesia diakui kedaulatannya oleh seluruh bangsa di dunia.

Perjuangan NU tidaklah berhenti. Sikap para intelektual petualang dianggap meresahkan di tubuh Masyumi. Bahkan dhawuh para Ulama sering tidak digubris lagi. Maka NU di bawah kepemimpinan KH Wahab Hasbullah menyatakan keluar dari Masyumi dan mendirikan partai sendiri.

Keputusan ini dinilai sangat mengejutkan, karena benar-benar menggembosi kekuatan Masyumi sebagai partai terbesar pada masa itu. Namun, keputusan ini menjadi indah di kemudian hari saat ternyata ada beberapa tokoh Masyumi yang terlibat pemberontakan Permesta. NU selamat.

Pada tahun 1965, kembali NU memiliki peranan penting dalam melawan paham Komunis yang telah banyak membantai kaum muslimin dan mencederai akidah Islam.

Pada Pemilu 1971 Partai NU menjadi partai pemenang kedua di Indonesia. Capaian yang luar biasa, hingga mengkhawatirkan pemerintah Orde Baru yang mulai menancapkan kekuasan otoritariannya. Maka Partai NU difusi menjadi Partai Persatuan Pembangunan bersama beberapa partai Islam lainnya.

Melihat kecurangan tersebut, KH Abdurrahman Wahid bersama beberapa Kyai melakukan manufer dengan mereformasi NU yang dikenal dengan Kembali ke Khittah NU 1926. NU kembali sebagai Jam’iyyah Diniyah yang bergerak di sosial keagamaan, bukan di Partai Politik. Sikap ini berhasil menyelamatkan NU dari keterpurukan.

NU kembali lebih fokus berkhidmah untuk bangsa Indonesia. NU juga dengan gamblang menerima Pancasila sebagai asas tunggal. NU tetap kritis kepada pemerintah.

Ketika gelombang reformasi tahun 1998, Indonesia diguncang berbagai macam isu. NU kembali tampil. KH Abdurrahman Wahid menjaga khittah NU untuk tidak menjadi Partai Politik. Beliau mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa untuk mewadai suara warga NU, dengan tetap memperbolehkan warga NU memilih partai di luar PKB. Orang di luar NU juga dipersilahkan untuk menjadi anggota ataupun simpatisan partai ini. Terbukti NU mampu menjawab tantangan jaman dan permasalahan umat.

Jaman terus berganti, waktu terus berlalu NU dengan segala dinamikanya berhasil membuktikan sumbangsihnya yang luar biasa dalam perjuangan bangsa ini. Tak terkata lagi sumbangsih nyata NU dalam peradaban bangsa Indonesia.

Bayangkanlah jika negeri ini tanpa ada NU, tentu tak akan bisa dibayangkan. Bisa jadi sudah tinggal cerita saja. Karena itu, sebagai warga NU, kita wajib bangga dan wajib meneruskan perjuangan para pendahulu kita. Dari NU untuk NKRI.

Jika NKRI goncang maka NU-lah yang bertanggungjawab. Bagi NU, NKRI adalah Harga Mati.
Share: Facebook Twitter Google+