Adab Berprasangka Kepada Orang Lain


Dalam berprilaku, selain aktivitas fisik yang kasat mata, hal yang harus diperhatikan adalah aktivitas hati. Mungkin tidak jarang di antara kita bersikap santun secara lahiriyah, namun hati kita merasa lebih baik dan lebih mulia. Perasaan lebih baik dari orang lain ini dapat menyebabkan beragam penyakit seperti meremehkan orang lain, sombong dan takabbur.

Agar kita tidak terjangkit penyakit tersebut, berikut nasihat dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (w. 561 H/1166 M) untuk dirinya sendiri sebagaimana dikutip Syaikh Nawawi Banten:

Jika aku bertemu orang yang lebih mulia, maka aku akan mengatakan bahwa bisa jadi orang tersebut memang lebih mulia dan lebih tinggi derajatnya di mata Allah Swt dibanding aku.

Jika aku bertemu orang yang lebih muda, maka aku akan mengatakan bahwa orang tersebut tidak pernah melakukan dosa dan durhaka kepada Allah Swt sedangkan aku sudah melakukannya. Tentu, ia lebih mulia dibanding aku.

Jika aku bertemu orang yang lebih tua, maka aku akan mengatakan bahwa orang tersebut telah sekian lama beribadah kepada Allah bahkan sejak aku belum lahir. Tentu, ia lebih mulia dibanding aku.

Jika aku bertemu orang yang lebih pandai, maka aku akan mengatakan bahwa ia telah dianugerahi ilmu dan pengetahuan yang belum aku ketahui dan dapatkan. Tentu, ia lebih mulia dibanding aku.

Jika aku bertemu orang yang lebih bodoh, maka aku akan mengatakan bahwa ia mungkin mengerjakan dosa atau durhaka kepada Allah karena ketidaktahuannya sedangkan aku melakukan dosa dan durhaka padahal aku telah mengetahuinya. Tentu, ia lebih mulia dibanding aku.

Bahkan jika aku bertemu dengan orang kafir sekalipun, aku tetap berprasangka bahwa ia lebih baik dariku. Bisa jadi ia kelak masuk Islam dan meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik) sedangkan aku malah menjadi kafir dan meninggal dalam keadaan su`ul khatimah (akhir yang buruk).

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa menghormati orang lain, bagaimanapun keadaannya. Wallahu a’lam.

Disarikan dari Nashaihul ‘Ibad Syarh ‘alal Munabbihat ‘alal Isti’dad li Yaumil Ma’ad karya Syaikh Nawawi Banten (w. 1316 H/1899 M)
Share: Facebook Twitter Google+