Ngganduli Sarunge Kyai, Belajar Hikmah Dari Mbah Madun Kajen


Mbah Madun, sapaan akrab untuk Kyai Muhammadun dari Kajen-Pati, semasa hidupnya sampai akhir 50an- dikenal dengan tindakan-tindakannya yang sering ‘eksentrik’. Bayangkan, sebagai seorang kyai yang alim dan disegani di daerahnya, hampir tiap malam tanpa segan-segan dia keluar masuk tempat-tempat kumuh dan rawan, tak terkecuali tempat pelacuran.

Bahkan, bila punya uang, tanpa malu dia akan mem-booking beberapa pelacur sekaligus. Tentu bukan untuk dilayani, tapi malah melayani: mengajari mereka mengaji atau dasar-dasar agama lainnya. Atau paling tidak kalau suasananya dianggap tidak tepat- cukup dengan menyuruh mereka beristirahat dan tidak melayani tamu; sehingga minimal malam itu mereka tidak berbuat dosa.

Karena penasaran, sahabatnya sesama kyai suatu saat sempat mempertanyakan sikap ‘eksentrik’ Mbah Madun ini: kenapa dia begitu perhatian terhadap kalangan yang dianggap sampah oleh masyarakat, tapi terkesan abai terhadap tugasnya sendiri sebagai kyai di tengah masyarakatnya.

“Lho, disini kan sudah banyak yang mengajar?” jawabnya ringan. “Sementara orang-orang itu, siapa yang mengajar? Bayangkan, kalau di hari kiamat mereka protes dan menolak masuk neraka, karena merasa belum pernah mendapat informasi agama yang memadai! Pada saat diseret ke neraka, mereka pasti akan ngganduli sarung kyai-kyai disini! Kyai-kyai yang mereka anggap tidak mengajari mereka tentang agama, tentang surga dan neraka! Lha kalau diganduli seperti ini kan payah! Para kyai bakal jatuh bangun, kesrimpet-srimpet sarungnya sendiri untuk berjalan ke surga!”

***

Dari dulu kita diajari: manusia tidak hidup sendiri. Langsung tidak langsung satu sama lain selalu terkait. Bahkan tidak ada satupun bagian dari semesta ini yang tak terhubung satu sama lain. Setiap tindakan kita -kecil atau besar, baik atau buruk- akan berakumulasi sedemikian rupa, menjadi gerak penentu sejarah. Kepak seekor kupu di Afrika pun misalnya, akan berakumulasi sedemikian rupa sehingga sekian bulan kemudian akan berbentuk badai di Australia. Ini fakta sederhana, tapi sulit muncul dalam kesadaran. Kita sering lupa, bahwa banyak bagian dari eksistensi kita terbentuk karena topangan milyaran unsur di alam semesta; dan sebaliknya, tindakan kita akan mempengaruhi arah sejarah semesta. Suka tidak suka, begitulah kenyataannya dan begitulah sejarah terbentuk.

Padahal tindakan kita hampir selalu dituntun oleh sudut pandang yang lokal-partikular-fragmentatif. Ketika melihat pohon, kita melupakan unsur air-tanah-udara-matahari yang telah menumbuhkannya. Karena hanya berkepentingan pada pohon, maka kita cuma merasa wajib berurusan dengan unsur-unsur yang langsung berkait dengannya seperti: akar-batang-ranting dan daun saja. Kita tak merasa berhutang pada topangan air-tanah-udara dan matahari.

Atau kalau kesadaran kita sedikit lebih luas, kita masih merasa berhutang dengan air dan tanah tempat tumbuhnya, tapi tetap akan abai akan peran udara dan matahari. Lebih buruk dibanding semua itu, adalah ketika kita begitu terpaku pada buah, sehingga abai terhadap peran akar-batang-ranting dan daun yang menopangnya. Kita hanya merasa perlu berhubungan dengan buah, jadi tak perlu peduli pada akar-batang-ranting dan daun; apalagi sulit-sulit membina kepedulian dengan air-tanah-udara dan matahari.

Inilah tipe pola kaca mata kuda yang paling ‘jahat’; karena penerapan pola kaca mata kuda ini hanya berorientasi pada kepentingan diri atau kelompok saja. Dan celakanya, sadar atau tidak, pola ini yang sering kita terapkan sehingga kita nyaris buta terhadap banyaknya kerusakan -langsung atau tak langsung- dari setiap tindakan atau kebijakan yang kita buat. Pertama, mungkin kita memang begitu rabun untuk bisa melihatnya; atau kalau kita bisa melihatnya, kita akan pura-pura tidak melihatnya. Karena orientasi awalnya memang: sekedar melunaskan kepentingan!

***

Nah, kalau kita pakai logika Mbah Madun, ini semua bakal membuat orang celaka dua kali. Bayangkan, kyai yang lupa menyampaikan kebenaran ke sebagian kalangan saja sudah cukup membuat langkahnya ke surga kesrimpet-srimpet; apalagi kita yang justru menyumbang akumulasi kerusakan ke banyak bagian dari semesta. Ini bukan cuma akan ngganduli kita, tapi justru akan membuat kita dikepung dan diseret-seret ke neraka oleh apapun yang telah kita sumbang kerusakannya. Tak peduli berapa banyak kebaikan yang kita rasa telah kita kerjakan, lebih tak peduli lagi: berapa sering kita pergi haji, berapa rapat jarak umroh kita. Apalagi bila semua itu cuma pencitraan, yang secara ajaib akhirnya malah kita yakini sebagai kenyaataan.

Maka, wahai para pemimpin, wahai para wakil rakyat, wahai barisan abal-abal yang suka memakai nama rakyat, wahai para ‘pelacur’ kebenaran dan kesucian yang suka berwajah manis padahal menyembunyikan pedang; ingatlah: Tuhan dan para malaikatNya tak pernah bisa disogok, jadi hati-hatilah terhadap apapun yang telah dan akan kalian putuskan!

Kepada Kyai Muhammadun Abdul Hadi, mari kita haturkan Surat Al-Fatihah... Lahu Al-Fatihah...
Sumber: Habib Anis Sholeh Ba'asyin, pengasuh Suluk Maleman.
Sumber foto: KH Abdullah Khoirzad Kencong Jember
Share: Facebook Twitter Google+