Indahnya Kehidupan Di Desa

Indahnya Kehidupan Di Desa

Melihat hiruk pikuk kehidupan di Kota, aku berniat mengajak teman-teman untuk menengok segala hal yang tak mungkin terlupakan saat hidup di desa. Berikut ulasanya..

Jalan Indah Desa
Berbeda dengan kita yang hidup di kota, seringkali kita dipusingkan dengan suara bising kendaraan bermotor, kereta, maupun hiruk pikuk orang yang berlalu lalang.

Meskipun suara bising kerap terdengar, itupun tak sampai mengganggu aktivitas masyarakat. Yang paling sering terdengar mungkin hanyalah suara kokok ayam jantan di pagi hari yang merupakan alarm alami yang memang ditugaskan untuk mereka agar bergegas bangun dan melakukan pekerjaan. Karena ketenangan inilah yang membuat warga desa jarang yang terserang stress dan penyakit serius.

Anti Pengaruh Sinetron
Kurangnya aliran listrik yang menjamah pedesaan tak selalu berdampak buruk. Bahkan tak tersedianya listrik maupun internet membuat masyarakat desa tak mengerti tentang berita-berita panas yang sedang terjadi. Hal ini membuat mereka tak terlalu peduli dengan keadaan diluar sana. Mereka tak peduli gosip, tak mengerti berita kriminal, dan tak peduli debat murahan yang sering ditayangkan televisi.

Ritme Kehidupan Desa
Kita terbiasa berpacu dengan waktu, meyelami ritme kehidupan kota yang cepat. Mulai bangun tidur kita disibukkan untuk bersiap-siap dan bergegas mengejar angkutan untuk berangkat ke kantor. Sepulang kerja kita harus berdesakan lagi di angkutan umum, belum lagi kemacetan yang sepertinya tak pernah surut. Waktu kita seakan tersedot habis untuk mengejar masalah-masalah duniawi.

Berbeda jauh dengan kota, ritme kehidupan di desa berjalan lambat, ketenangan menyelimuti tiap sudut desa. Dengan begini kita akan lebih bisa memaknai arti hidup, bahwa hidup tak hanya melulu untuk mengejar kekayaan duniawi. Lebih dari itu, kita juga harus sadar bahwa jiwa dan hati kita juga butuh ketenteraman. Pada akhirnya ngadem di sawah jadi pilihan terakhir.

Menanak Nasi
Kesederhanaan akan membuat kita menjadi manusia yang lebih bisa bersyukur, lebih akrab dengan alam dan Tuhan. Mandi dan mencuci di sungai, makan siang di gubuk tengah sawah, dan melewati malam hanya ditemani sebatang obor maupun lampu minyak membuat mereka lebih menghargai dan mensyukuri hidup dan kesederhanaan yang telah diberikan kepada mereka.

Meski tak memiliki fasilitas yang berlimpah seperti di kota, masyarakat pedesaan justru amat sangat menjunjung tinggi kesederhanaan. Mereka tak perlu mobil mahal maupun pakaian bermerek. Yang terpenting bisa bertani dan mencukupi kebutuhan sehari-hari sudah untung. Tak perlu banyak menuntut, toh semua harta benda pada akhirnya tak akan dibawa ke kubur. Yang pasti amal kebaikan kitalah yang akan menemani dan menolong kita di alam baka nanti.
Share: Facebook Twitter Google+