Ketika Islam Kampung dan Islam Kampus Bertemu di Sosial Media

Ketika Islam Kampung dan Islam Kampus Bertemu di Sosial Media

Sejak usia masih tujuh tahun, anak kampung diwajibkan pakai sarung setiap habis maghrib. Mereka diperintah berangkat ke musholla untuk belajar mengaji al Qur'an, Ilmu Tajwid, Fiqh dan Aqidah dasar. Dan ilmu ilmu ini menjadi ssangat akrab pada mereka. Begitu pula ketika nyantri, mereka perdalam ilmu agama yang dasar dasarnya sudah dipelajari sejak di kampung.

Maka wajar, ketika mereka kuliah, mereka tertarik dengan perbincangan yang lebih menantang semacam Kritik Nalar Islam Mohammed Arkoun, Kiri Islam dari Hassan Hanafi, Formasi Nalar Arab dari Abed Al Jabiri, Filsafat Dekonstruksi dari Jaqcues Derrida, Kritik Sejarah ala Michael Foucault, dan lain lain.

Sementara di sisi lain, ada yang baru belajar ilmu agama di kampus melalui Roudhohan yang digelar oleh kalangan Wahabi. Bagi mereka, ilmu Tajwid, Ilmu Fiqh, Aqidah, menjadi ilmu yang mewah.

Maka ketika berjumpa di Facebook, anak orang NU heran mengapa ilmu ilmu dasar seperti sifat dua puluh, lafadz Usholli, do'a qunut, dan sebagainya lantas menjadi bahan perdebatan favorit dikalangan Islam Kampus tersebut. Padahal itu sesuatu yang telah dianggap sebagai ilmu yang semua orang sudah tahu oleh anak anak Islam Kampung.

Anak anak Islam kampus ini begitu bersemangat dengan ilmu agama yang baru mereka pelajari. Dan ilmu itu lantas diacungkan ke langit untuk mengkritik tradisi beragama masyarakat Indonesia, terutama NU.

Anak orang NU luput memotret hal ini karena bagi mereka ilmu ilmu tersebut sangat dasar dan menganggap semua orang Islam pasti tahu. Padahal kenyataanya, anak anak Islam kampus tersebut sama sekali tak paham ilmu ilmu dasar. Ketika belajar dikampus, mereka langsung disuguhi wacana kritik tradisi untuk membid'ahkan semua amaliyah orang lain yang tidak sejalan dengan pemikiran kaum puritan terutama Wahabi.

#CakDayat
Share: Facebook Twitter Google+