Maraknya Media Non Aswaja Membuat Orang Awam Semakin Bingung

Maraknya Media Non Aswaja Membuat Orang Awam Semakin Bigung

Maraknya media Islam non ahlusunnah waljamaah membuat orang awan semakin bingung akan keislaman, banyak ummat awam yang ikut memfitnah ulama gara-gara media, banyak awam yang ikut mencela ulil amri gara-gara media.

Dan akhir-ahkir ini banyak Para kyai, Gus dan Habaib yang di cap Liberal dan Cap Syiah oleh Netizen awam yang salah membaca suatu media islam, yang dulu media-media non ASWAJA ini dengan mudahnya memberi cap Syirik dan Bid'ah namun akhir-akhir ini cap itu kurang laku, maka mereka melancarkan cap Liberal dan Syiah kepada Ulama-ulama Ahlusunnah. 

Padahal Golongan Liberal di Indonesia itu cuma satu dan dua orang sedangkan syiah juga cuma sedikit sekali. Namun kelompok Non Ahlusunnah membesar-besarkan isu Syiah dan liberal dengan cara memfitnah Para Kyai dan Gus Aswaja sebagai tokoh syiah dan tokoh liberal.

Sebenarnya apa sih kriteria liberal dan kriteria Syiah menurut mereka? ternyata setiap yang suka Maulid Nabi dan tidak mau ikut mengkafirkan Syiah maka berarti Syiah.  Dan setiap yang tidak mau mengkafirkan orang lain maka berarti liberal, padahal alasan para ulama tidak mengkafirkan karena kehati-hatian dan demi keharmonisan bersama.

Syekh Taqiyyudin Assubki juga berpendapat bahwa orang yang Taqwa kepada Allah adalah orang yang tidak suka mengkafirkan walaupun terhadap golongan yang menyimpang.

سئل سيدنا ومولانا شيخ الأسلام تقي الدي السبكي رحمه الله تعالى عن حكم تكفير غلاة المبتدعة وأهل الأهواء والمتفوهين بالكلام على الذات المقدس فقال رضي الله عنه اعلم أيها السائل ان كل من خاف من الله عزوجل استعظم القول بالتكفير لمن يقول لا اله الا الله محمد رسول الله اذالتكفير أمر هائل عظيم الخطر لأن من كفرشخصا بعينه فكأنه أخبر أن عاقبته فى الأخرة الخلود فى النار أبد الأبدين وأنه فى الدنيا مباح الدم والمال لا يمكن من نكاح مسلمة ولا يجري عليه أحكام المسلمين لا فى حياته ولا بعد مماته والخطاء فى ترك ألف كافر أهون من الخطاء فى سفك محجمة من دم امرء مسلم.طبقات الكبرى. الشيخ عبد الوهاب الشعراني.

Sayidina Maulana Syeikh Taqiyudin al-Subkiy ra, ditanya hukum mengkafirkan muslim yang dianggap “menyimpang” dari ajaran Islam. Syeikh Taqiyudin al-Subkiy ra. menjawab: “Setiap orang yang takut kepada Allah Azza wa Jalla akan menganggap luar biasa sekali mengkafirkan orang yang mengucapkan la ila ila Allah Muhammad Rasulullah. Mengkafirkan (seorang muslim) adalah bahaya besar, karena memvonis seseorang kafir sama dengan menyatakan bahwa orang tersebut abadi di Neraka, secara hukum fiqh tidak terlindungi darah dan hartanya, tidak boleh menikahi muslimah, hak-haknya sebagai muslim dicabut baik saat hidup (seperti nikah dengan muslim/ muslimah) ataupun setelah mati (seperti tidak boleh di shalatkan dan tidak boleh dikuburkan di pemakaman muslim). Tidak memvonis kufur pada 1000 orang yang jelas-jelas kufur lebih ringan bahayanya daripada menyatakan seorang muslim sebagai orang yang kufur (keluar dari Islam)”.

Lalu Kenapa Para ulama yang bertakwa justru sering difitnah(dicap liberal dan Syiah)? itulah ujian orang alim ketika akan diangkat drajatnya.

Imam Abu Al-hasan Asy-syadzily Dawuh:

لا يكمل عالم في مقام العلم حتى يبتلى بأربع: شماتة الأعداء، وملامة الأصدقاء، وطعن الجهال، وحسد العلماء. فإن صبر جعله الله إماماً يقتدى به

Seorang Alim belum akan mencapai tingkat kesempurna'an ilmunya hingga mengalami Empat Ujian: 
1. Kegembira'an musuh (disebabkan coba'an yang menimpanya),
2. Cela'an para sahabat,
3. Hina'an orang-orang yang bodoh,
4. Iri hati dari kalangan ulama,
Jika dia mampu bersabar terhadap itu semua, pasti Allah akan menjadikannya sebagai pemimpin yang di ikuti. ( Imam Abu al-Hasan asy-Syadzily rahimahullah)

Ulama pun akan iri dengan ulama lain, apalagi hinaan orang-orang bodoh (awam) dalam hal agama pasti sulit dihindari, itulah ulama yang mempunyai derajat tinggi.
Share: Facebook Twitter Google+