Rayakan Tahun Baru Hijriyah Sebagai Momentum Character Building

Rayakan Tahun Baru Hijriyah Sebagai Momentum Character Building

Berbeda dengan tradisi merayakan tahun baru Masehi, perayaan tahun baru Hijriyah memiliki ciri khas. Yakni tidak dilakukan dengan berpesta pora dengan segala kemewahannya, melainkan sebagai ajang bermuhasabah. Sebagai bahan perenungan terhadap apa yang dilakukan selama ini.

Jaman dulu, untuk memperkuat anggapan bahwa pada bulan Muharrom (Suro-Jawa) adalah bulan untuk mengintrospeksi diri, dihembuskanlah mitos yang sangat kuat agar masyarakat tidak melakukan kegiatan yang ada pesta poranya. Terutama Pernikahan dan Khitanan. Hal ini disebabkan karena masa itu, informasi akan lebih efektif bila disampaikan dengan cara demikian. Sehingga tidak memecah perhatian masyarakat dan mengurangi wibawa Keraton dan Ulama.

Sejatinya, para Ulama mengajak kita semua untuk tirakat, melihat kembali diri kita, dan mempersiapkan diri menjadi umat yang lebih baik lagi ke depannya. Mulai dari diadakannya ritual simbolik di Kerajaan-kerajaan hingga sholat dan doa bersama di pedesaan-pedesaan.

Saat ini, di era modern, sebagian besar dari kita sudah faham bahwa tidak ada hubungan antara pesta pora dengan sakralitas bulan Muharam (Suro). Namun, itikad baik meneruskan tradisi baik dari orang baik tempo dulu dengan menahan diri dari berpesta pora, memperbanyak tirakat dan riyadloh di bulan ini, semoga semakin menjadikan kita sebagai insan yang sukses dalam character building dan capacity building menuju bangsa Indonesia yang lebih tangguh dan berwibawa.

Selamat Tahun Baru, 1 Muharram 1438 Hijriyah.

Share: Facebook Twitter Google+